Disampaikan oleh Ustadz Roy dalam Kajian Umum
Pekanan KODISIA, Sabtu 20 April 2013 di Masjid Ulil Albab UII.
"Saya tak setuju dengan judul kita pada kajian hari ini", begitu sang
Ustadz mengawali tausyiahnya. "Cinta itu tidak membuahkan dosa tapi
nafsulah yang mengakibatkan lahirnya dosa. Karena hakikatnya, cinta itu
suci.".
Rasulullah pernah bersabda, "'Di antara doa yang pernah diucapkan Dawud alaihissalam, 'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon cintaMu, cinta orang yang mencintaiMu dan perbuatan yang mengantarkanku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah 'cintaMu' lebih aku cintai daripada diriku sendiri, keluargaku dan dari air yang dingin'."(1)
Sang Ustadz menjelaskan, penting bagi kita untuk mendapatkan cinta dari seseorang yang mencintai Allah. karena dengan rasa cintanya itu, akan menjagainya dari perbuatan-perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan. jika pada suatu waktu, seseorang yang dicintai menghendaki berbuat sesuatu hal yang menyimpangi syari'at, maka rasa cintanya kepada Allah akan menjadi benteng penolak keburukan itu. lalu bagaimana jika ada yang mencintai seseorang dengan menjadikan orang yang dia kasihi itu lebih utama daripada Tuhannya? alamat keburukan yang akan didapatkan!
Rasulullah paham, ujian untuk ummat di masa depan adalah tentang harta benda keduniawian. karenanya Rasulullah mengajarkan kita doa tersebut (begitu kata ustadz) agar kita lebih lebih memilih menjadi Allah sebagai cinta pertama dan utama bagi kita. karena dengan demikian, keburukan-keburukan yang datang menghampiri kita akan tertepis dengan cinta kita kepada Allah.
_Mencintai dengan Rasio_
dalam membahas tentang cinta kepada lawan jenis, beliau menyampaikan bahwa dalam urusan yang satu ini kita perlu menggunakan rasio kita untuk mencintai. maksudnya, dengan berpikir rasional diharapkan kita bisa merenungkan betul hal-hal yang akan kita lakukan bernilai manfaat ataukah hanya mudlarat semata. terlebih dalam kehidupan remaja masa kini yang hanya mementingkan kesenangan sesaat saja. dulu hal-hal yang dianggap tabu untuk dilakukan, kini menjadi lumrah (bahkan menjadi trend) untuk dilakukan.
_Management Cinta_
Rasullah, bersabda, "Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu." (HR. Al-Tirmidzi).
batas antara cinta dengan benci begitu tipis. lebih tipis dibandingkan sutrah itu. terkadang, ketika ada seseorang begitu membenci seseorang yang lain. mendengar namanya disebut saja sudah membuat darahnya naik, apalagi sampai bertemu.. lalu pada suatu waktu lama tidak terjadi perjumpaan, hingga terbitlah rasa rindu. rindu untuk bertemu. dan ternyata.. Allah menakdirkan rasa cinta itu muncul dengan didahului benci terlebih dahulu. lihatlah kisah para artis. di awal mereka menyatakan saling mencintai. tapi tak lama berselang, kebencian pun muncul. aib-aib disebar ke media.
karenanya.. cinta kepada Allah haruslah menjadi yang utama dan pertama sebelum cinta-cinta pada yang lain. karena ketika ada tawaran dunia datang menghampiri kita.. yang melenakan, kita sanggup menepis keberadaannya dan lebih mengutamakan rasa cinta kita kepada Allah.
_Cinta Allah yang Utama_
beliau juga mengisahkan tentang kisah Rabiyah al Adawiyah yang dilamar oleh Hasan al Bashri. terjadi dialog di antara kedua, ketika Hasan al Bashri mengemukakan keinginannya untuk mempersunting Rabiyah al Adawiyah.
"Aku akan menerima lamaranmu jika engkau bisa menjadi tiga hal untukku", begitu sahut Rabiyah al Adawiyah sesaat setelah Hasan al Bashri mengutarakn niatnya.
"Sebutkan tigal itu. barangkali saja aku bisa menjaminkannya untukmu".
"pertama, bisakah engkau menjamin ketika aku meninggal aku sanggup mengucapkan "laa ilaha illaallah"? kedua, bisakah engkau menjamin ketika aku sudah di alam kubur, aku bisa menjawab pertanyaan Munkar-Nakir? ketiga, bisakah engkau menjamin bahwa aku bisa masuk surga?"
Hasan al Bashri pun tidak sanggup memberikan jaminan apa pun kepada Rabiyah al Adawiyah. dan di akhir, Rabiyah al Adawiyah berkata,
"Aku hanya akan menyerahkan hidupku kepada yang bisa menjamin ketiga hal itu untukku. dan dia adalah Allah".
semoga bermanfaat!
footnote:
(1) (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab, 5/522, no. 3490; al-Hakim 2/433; Abu Nu'aim 1/226; dan Ibnu Asakir 17/86: Dari jalur Muhammad bin Fudhail, dari Muhammad bin Sa'ad, dari Abdullah bin Rabi'ah bin Yazid ad-Dimasyqi, Abu Idris al-Khaulani telah menceritakan kepada kami, dari Abu ad-Darda` dengan hadits tersebut.
At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan gharib." Dan an-Nawawi menyetujuinya, dan al-Hakim menshahihkannya, maka adz-Dzahabi mengoreksinya dengan perkataannya,"Abdullah ini kata Ahmad, hadits-haditsnya palsu." Dan al-Albani mengoreksinya dalam ash-Shahihah, no. 707 dengan penjelasan yang memberi faidah bahwa pelaku pemalsu adalah selainnya, dan bahwa Abdullah ini hanya majhul saja. Saya berkata, Di dalamnya dia mudhtharib, maka suatu kali dia menjadikannya berasal dari doa Dawud ‘alaihissalam, dan suatu kali menjadikannya berasal dari doa Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, maka hadits tersebut lemah. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan.")
(sumber: http://www.alsofwah.or.id/cetakdoa.php?id=419 )
Rasulullah pernah bersabda, "'Di antara doa yang pernah diucapkan Dawud alaihissalam, 'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon cintaMu, cinta orang yang mencintaiMu dan perbuatan yang mengantarkanku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah 'cintaMu' lebih aku cintai daripada diriku sendiri, keluargaku dan dari air yang dingin'."(1)
Sang Ustadz menjelaskan, penting bagi kita untuk mendapatkan cinta dari seseorang yang mencintai Allah. karena dengan rasa cintanya itu, akan menjagainya dari perbuatan-perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan. jika pada suatu waktu, seseorang yang dicintai menghendaki berbuat sesuatu hal yang menyimpangi syari'at, maka rasa cintanya kepada Allah akan menjadi benteng penolak keburukan itu. lalu bagaimana jika ada yang mencintai seseorang dengan menjadikan orang yang dia kasihi itu lebih utama daripada Tuhannya? alamat keburukan yang akan didapatkan!
Rasulullah paham, ujian untuk ummat di masa depan adalah tentang harta benda keduniawian. karenanya Rasulullah mengajarkan kita doa tersebut (begitu kata ustadz) agar kita lebih lebih memilih menjadi Allah sebagai cinta pertama dan utama bagi kita. karena dengan demikian, keburukan-keburukan yang datang menghampiri kita akan tertepis dengan cinta kita kepada Allah.
_Mencintai dengan Rasio_
dalam membahas tentang cinta kepada lawan jenis, beliau menyampaikan bahwa dalam urusan yang satu ini kita perlu menggunakan rasio kita untuk mencintai. maksudnya, dengan berpikir rasional diharapkan kita bisa merenungkan betul hal-hal yang akan kita lakukan bernilai manfaat ataukah hanya mudlarat semata. terlebih dalam kehidupan remaja masa kini yang hanya mementingkan kesenangan sesaat saja. dulu hal-hal yang dianggap tabu untuk dilakukan, kini menjadi lumrah (bahkan menjadi trend) untuk dilakukan.
_Management Cinta_
Rasullah, bersabda, "Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu." (HR. Al-Tirmidzi).
batas antara cinta dengan benci begitu tipis. lebih tipis dibandingkan sutrah itu. terkadang, ketika ada seseorang begitu membenci seseorang yang lain. mendengar namanya disebut saja sudah membuat darahnya naik, apalagi sampai bertemu.. lalu pada suatu waktu lama tidak terjadi perjumpaan, hingga terbitlah rasa rindu. rindu untuk bertemu. dan ternyata.. Allah menakdirkan rasa cinta itu muncul dengan didahului benci terlebih dahulu. lihatlah kisah para artis. di awal mereka menyatakan saling mencintai. tapi tak lama berselang, kebencian pun muncul. aib-aib disebar ke media.
karenanya.. cinta kepada Allah haruslah menjadi yang utama dan pertama sebelum cinta-cinta pada yang lain. karena ketika ada tawaran dunia datang menghampiri kita.. yang melenakan, kita sanggup menepis keberadaannya dan lebih mengutamakan rasa cinta kita kepada Allah.
_Cinta Allah yang Utama_
beliau juga mengisahkan tentang kisah Rabiyah al Adawiyah yang dilamar oleh Hasan al Bashri. terjadi dialog di antara kedua, ketika Hasan al Bashri mengemukakan keinginannya untuk mempersunting Rabiyah al Adawiyah.
"Aku akan menerima lamaranmu jika engkau bisa menjadi tiga hal untukku", begitu sahut Rabiyah al Adawiyah sesaat setelah Hasan al Bashri mengutarakn niatnya.
"Sebutkan tigal itu. barangkali saja aku bisa menjaminkannya untukmu".
"pertama, bisakah engkau menjamin ketika aku meninggal aku sanggup mengucapkan "laa ilaha illaallah"? kedua, bisakah engkau menjamin ketika aku sudah di alam kubur, aku bisa menjawab pertanyaan Munkar-Nakir? ketiga, bisakah engkau menjamin bahwa aku bisa masuk surga?"
Hasan al Bashri pun tidak sanggup memberikan jaminan apa pun kepada Rabiyah al Adawiyah. dan di akhir, Rabiyah al Adawiyah berkata,
"Aku hanya akan menyerahkan hidupku kepada yang bisa menjamin ketiga hal itu untukku. dan dia adalah Allah".
semoga bermanfaat!
footnote:
(1) (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab, 5/522, no. 3490; al-Hakim 2/433; Abu Nu'aim 1/226; dan Ibnu Asakir 17/86: Dari jalur Muhammad bin Fudhail, dari Muhammad bin Sa'ad, dari Abdullah bin Rabi'ah bin Yazid ad-Dimasyqi, Abu Idris al-Khaulani telah menceritakan kepada kami, dari Abu ad-Darda` dengan hadits tersebut.
At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan gharib." Dan an-Nawawi menyetujuinya, dan al-Hakim menshahihkannya, maka adz-Dzahabi mengoreksinya dengan perkataannya,"Abdullah ini kata Ahmad, hadits-haditsnya palsu." Dan al-Albani mengoreksinya dalam ash-Shahihah, no. 707 dengan penjelasan yang memberi faidah bahwa pelaku pemalsu adalah selainnya, dan bahwa Abdullah ini hanya majhul saja. Saya berkata, Di dalamnya dia mudhtharib, maka suatu kali dia menjadikannya berasal dari doa Dawud ‘alaihissalam, dan suatu kali menjadikannya berasal dari doa Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, maka hadits tersebut lemah. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan.")
(sumber: http://www.alsofwah.or.id/cetakdoa.php?id=419 )
No comments:
Post a Comment